JOGJA.24JAMNEWS.COM - Sampah kini resmi naik kelas menjadi agenda strategis negara. Setelah menetapkan hari korve nasional dua kali sepekan, Presiden Prabowo Subianto melangkah lebih jauh: memerintahkan percepatan teknologi pengolahan sampah skala mikro untuk segera diuji coba tahun ini di tingkat kelurahan.
Jika korve adalah disiplin sosial, maka teknologi mikro adalah disiplin sistem.
Dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, Presiden meminta inovasi perguruan tinggi tidak berhenti di laboratorium.Baca Juga: Sultan Dorong Reformasi DPMPTSP DIY, Ghofar Ismail Diminta Tinggalkan Pola Lama
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menjelaskan, teknologi yang sudah dikembangkan kampus akan dipilih dan dipercepat implementasinya bersama Danantara.
Skala yang dibidik konkret: sekitar 10 ton sampah per hari—setara produksi satu kelurahan atau desa.
Berbeda dengan program Waste to Energy yang menghasilkan listrik, teknologi mikro ini difokuskan pada pengurangan dan pengolahan sampah menjadi material turunan seperti pasir atau debu untuk campuran konstruksi.
Artinya, sampah tidak lagi sekadar dibuang, tetapi diurai dan dimanfaatkan kembali.
Baca Juga: Hari Kondom Sedunia dan Keheningan yang Mahal Ongkosnya
Benang merah kebijakan ini jelas. Presiden membaca ancaman 2028—tahun ketika sebagian besar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) diperkirakan mencapai overkapasitas—sebagai tenggat nyata.
Mengandalkan TPA semata bukan solusi. Mengandalkan proyek raksasa pun tidak cukup cepat.
Infrastruktur besar seperti Waste to Energy memerlukan waktu, investasi, dan proses panjang, sementara sampah datang setiap hari tanpa jeda.
Teknologi mikro menawarkan pendekatan berbeda: memecah beban besar menjadi unit-unit kecil. Gunung sampah tidak ditunggu di hilir, melainkan dipotong di hulu.
Baca Juga: JFW 2026 Tegaskan DIY sebagai Episentrum Fashion Berbasis Budaya
Jika berhasil, model ini bisa membentuk jaringan pengolahan di ribuan kelurahan—sebuah desentralisasi penanganan sampah.