JOGJA.24JAMNEWS.COM - Peresmian sebuah pabrik biasanya ditandai tepuk tangan. Tapi di Magelang, Kamis pagi itu, yang terdengar justru bunyi sirine: dorrr.
Sebuah gestur simbolik yang terasa ingin menegaskan—ini bukan sekadar seremoni, melainkan penanda arah baru.
Baca Juga: Di Balik 90 Menit Terakhir: China, Pakistan, dan Senyap yang Menghentikan Perang
Di hadapan jajaran pejabat dan pelaku industri, Prabowo Subianto meresmikan pabrik perakitan kendaraan komersial berbasis listrik milik PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk.
Kalimat pembuka yang ia ucapkan sederhana, nyaris formal. Namun konteksnya jauh dari biasa: Indonesia sedang mencoba menempatkan diri dalam peta industri kendaraan listrik global.
Sebelum sirine ditekan, Prabowo berkeliling pabrik. Ia tidak hanya melihat lini produksi, tapi juga duduk di dalam bus listrik terbaru yang akan digunakan TransJakarta.
Baca Juga: HB II, Baru Saja Dikuasai, Langsung Dihantam dari Luar.
Di sana, ia tampak lebih banyak mendengar daripada berbicara—sebuah momen yang, jika dibaca lebih jauh, mencerminkan fase belajar negara ini dalam mengejar ketertinggalan teknologi.
Di sampingnya, Komisaris Utama VKTR, Anindya Bakrie, menjelaskan arah pengembangan transportasi listrik nasional.
Sementara Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut kapasitas produksi pabrik ini bisa mencapai 3.000 unit per tahun—bus dan truk listrik yang diharapkan menjadi tulang punggung mobilitas masa depan.
Baca Juga: Bersiap Hadapi El Niño “Godzilla”: Sedia Payung Sadurunge Udan
Namun, angka-angka itu bukan inti cerita.
Yang lebih menarik adalah momentum di baliknya. Indonesia selama ini dikenal sebagai pasar—tempat kendaraan dipasarkan, bukan diproduksi dengan teknologi masa depan.
Upaya membangun pabrik kendaraan listrik di dalam negeri adalah semacam pernyataan: bahwa Indonesia ingin naik kelas, dari konsumen menjadi produsen.