Pertanyaannya, seberapa jauh langkah ini bisa dibawa?
Sejarah industrialisasi Indonesia penuh dengan proyek ambisius yang kandas di tengah jalan—terbentur regulasi, pasar, atau sekadar inkonsistensi kebijakan. Kendaraan listrik sendiri bukan sekadar soal merakit bodi dan baterai.
Ia menuntut ekosistem: dari infrastruktur pengisian daya, rantai pasok baterai, hingga keberanian pasar untuk beralih dari mesin konvensional.
Di titik ini, peresmian pabrik di Magelang terasa seperti bab pembuka, bukan klimaks.
Baca Juga: Ketika Makam Pahlawan Masuk Strategi Negara
Bunyi “dorrr” tadi, jika dimaknai lebih dalam, bisa dibaca sebagai dua hal sekaligus: optimisme dan tantangan.
Optimisme bahwa Indonesia akhirnya ikut masuk dalam perlombaan global kendaraan listrik. Tantangan karena setelah sirine berhenti, yang tersisa adalah pekerjaan panjang—memastikan pabrik ini tidak hanya berdiri, tetapi benar-benar hidup.
Sebab pada akhirnya, industri tidak dibangun oleh seremoni, melainkan oleh konsistensi.
Dan di situlah ujian sebenarnya dimulai.