Di ruang-ruang kuliah yang dulu menjadi medan tempur gagasan, kini terdengar keluhan yang nyaris seragam: mahasiswa tak lagi sanggup membaca teks panjang.
Bukan malas, melainkan tak mampu bertahan. Di sejumlah kampus Amerika Serikat, dosen mulai menurunkan standar—agar perkuliahan tetap berjalan.
Baca Juga: Lulus di Usia 20 Tahun, Tiara Menembus Batas di Kedokteran Gigi UGM
Laporan majalah Fortune merekam kegelisahan itu. Profesor sastra di Pepperdine University, Jessica Hooten Wilson, mengaku mahasiswanya kesulitan memahami satu kalimat utuh.
Ia menghapus tugas membaca di luar kelas dan menggantinya dengan sesi membaca bersama, baris demi baris.
Baca Juga: Ketika AI Mengguncang Meja Kantor dan Merehab Martabat Kerja Otot
Tetap saja banyak yang tak mampu memproses makna. “Saya merasa harus membaca keras-keras karena tidak ada yang membaca malam sebelumnya,” ujarnya.
Di University of Notre Dame, profesor teologi Timothy O'Malley menyebut tugas membaca 25–40 halaman—yang dulu lazim—kini dianggap terlalu berat.
Mahasiswa lebih terbiasa memindai, menyimak ringkasan, bahkan mengandalkan rangkuman berbasis kecerdasan buatan.
Membaca tak lagi menjadi proses menyelam, melainkan sekadar menyentuh permukaan.
Baca Juga: UGM Menjaga Nurani di Tengah Laju AI
Data nasional memperkuat kegelisahan itu. Survei PIAAC menunjukkan puluhan juta warga dewasa Amerika berada pada tingkat literasi terendah.
Minat membaca untuk hiburan turun drastis dalam dua dekade terakhir. Pandemi Covid-19 memang memperparah, tetapi akar masalahnya lebih dalam: perubahan budaya atensi.
Baca Juga: Gen Z : Generasi Layar dan Ilusi Cerdas