JOGJA.24JAMNEWS.COM - Di tengah dorongan global menuju kendaraan listrik, satu pertanyaan lama terus membayangi: seberapa jauh mobil listrik bisa melaju sebelum harus kembali “minum” daya?
Jawaban atas pertanyaan itu pelan-pelan berubah—dan kali ini datang dari laboratorium di Korea Selatan.
Riset terbaru dari Pohang University of Science and Technology (POSTECH) menawarkan secercah lompatan, bukan sekadar langkah.
Baca Juga: Pelantikan Kagama Klaten, Melanjutkan Jejak Yang Tertinggal
Para penelitinya mengembangkan baterai berbasis silikon yang diklaim mampu membawa kendaraan listrik menempuh hingga 1.000 kilometer dalam sekali pengisian.
Angka yang, jika benar-benar terwujud dalam produksi massal, berpotensi menggeser persepsi publik: dari “cukup untuk kota” menjadi “siap untuk perjalanan jauh.”
Namun, yang menarik bukan hanya jaraknya. Melainkan pendekatan yang diambil.
Baca Juga: Pelantikan Kagama Klaten, Melanjutkan Jejak Yang Tertinggal
Selama ini, silikon dikenal sebagai kandidat ideal pengganti grafit pada anoda baterai lithium-ion karena kapasitas penyimpan energinya jauh lebih besar. Masalahnya klasik: silikon “mengembang”—bahkan hingga tiga kali lipat—saat mengisi daya, lalu menyusut kembali saat digunakan. Siklus ini merusak struktur baterai dan memperpendek umur pakai.
Banyak peneliti mencoba mengakali dengan membuat silikon dalam bentuk nano. Solusinya bekerja, tetapi mahal dan sulit diproduksi secara massal—sebuah ironi untuk teknologi yang diharapkan menjadi arus utama.
Baca Juga: Hari Air Sedunia: Air Melimpah, Tapi Krisis?
Tim POSTECH justru mengambil jalur yang lebih “membumi”: menggunakan silikon berukuran mikro, ribuan kali lebih besar dari partikel nano. Lebih sederhana, lebih murah, dan—yang terpenting—lebih realistis untuk industri.
Untuk mengatasi masalah kembang-kempis, mereka memanfaatkan gel polimer elektrolit yang mampu beradaptasi mengikuti perubahan bentuk silikon, lalu mengikatnya secara kimia melalui radiasi elektron agar tetap stabil.
Hasilnya bukan sekadar eksperimen laboratorium yang rapuh. Mereka mengklaim baterai ini memiliki stabilitas setara baterai lithium-ion konvensional, tetapi dengan densitas energi 40 persen lebih tinggi.