JOGJA.24JAMNEWS.COM - Indonesia sedang menghadapi sebuah ironi besar: kita merayakan kesucian di tengah kerusakan yang kita ciptakan sendiri.
Setiap tahun, saat Hari Raya tiba, konsumsi meningkat, sampah melonjak hingga 20–30 persen, jalanan lumpuh oleh kemacetan, dan tempat-tempat wisata berubah menjadi lautan limbah.
Di saat yang sama, banjir, pencemaran sungai, dan kerusakan hutan terus terjadi tanpa jeda.
Baca Juga: Menunggu Subuh di Rumah Para Wali
Fakta ini menampar kesadaran kita: perayaan keagamaan yang seharusnya memurnikan manusia justru sering meninggalkan jejak ekologis yang kotor.
Perayaan Hari Raya di Tengah Kalender Ekologis
Yang jarang kita sadari, Nyepi dan Idul Fitri hadir berdampingan dengan sejumlah peringatan lingkungan hidup yang sangat relevan.
Hari Peduli Sampah Nasional jatuh pada 21 Februari, Hari Air Sedunia pada 22 Maret, Hari Hutan Sedunia pada 21 Maret, dan Hari Sungai Nasional diperingati setiap 27 Juli.
Baca Juga: Manusia Baru yang Ramah Lingkungan: Dari Ritual ke Tindakan
Rangkaian hari-hari ini bukan sekadar peringatan seremonial—ia adalah pengingat kolektif bahwa bumi sedang sakit, dan kita adalah bagian dari penyebabnya.
Apakah kita pernah merenungkan: seberapa sering sampah Lebaran kita berakhir di sungai?
Seberapa banyak air bersih yang kita hambur untuk tradisi yang sesungguhnya bisa lebih sederhana?
Seberapa luas hutan yang harus dibuka demi kebun sawit penghasil minyak goreng yang kita gunakan berliter-liter setiap musim Lebaran?
Krisis yang Tidak Bisa Diabaikan