JOGJA.24JAMNEWS.COM - Di Masjid Agung Demak, Ramadan tidak benar-benar berakhir ketika malam semakin larut.
Justru pada jam-jam ketika sebagian besar orang terlelap, masjid ini menemukan denyutnya yang paling hening—dan mungkin paling jujur.
Selepas tadarus, sebagian jamaah pulang. Namun ada yang memilih bertahan. Mereka yang tinggal biasanya tidak banyak bicara.
Baca Juga: 3026 paket Dari nDalem Marsum, Bantuan yang Kenal Penerimanya. Solo Solo Solo
Ada yang bersandar di tiang kayu, ada yang memejamkan mata sejenak, ada yang tetap membuka mushaf meski suara sudah semakin lirih.
Inilah mereka yang menunggu subuh—dalam jeda waktu yang sunyi, tanpa hiruk, tanpa ingin dilihat.
Pada malam-malam ganjil, suasana itu sedikit berbeda. Jamaah berkumpul kembali untuk menunaikan salat tasbih berjamaah.
Baca Juga: Tadarus Malam di Rumah Peradaban Demak
Gerakannya pelan, bacaannya lebih panjang, seakan memberi ruang bagi setiap orang untuk benar-benar merasakan setiap lafaz yang diucapkan.
Tidak ramai, tidak pula penuh, tetapi justru di situlah kekhusyukannya terasa lebih dalam.
Waktu bergerak tanpa terasa. Angin dini hari menyusup pelan ke serambi. Lampu tetap menyala, namun cahayanya terasa lebih redup. Satu jam menjelang subuh, aktivitas kecil mulai tampak.
Baca Juga: Garebeg Sawal Puncak Rangkaian Hajad Dalem Idulfitri 2026 di Keraton Yogyakarta
Pengurus masjid menyiapkan hidangan sahur—sederhana, tetapi cukup menghangatkan. Terutama bagi mereka yang beriktikaf, yang memilih bermalam di rumah para wali ini.
Tak ada suasana tergesa. Orang-orang makan dalam diam, sesekali bertukar senyum. Tidak ada percakapan panjang. Seolah semua sepakat menjaga keheningan, agar malam tidak pecah sebelum waktunya.