• Sabtu, 18 April 2026

Jika HB II Begitu Berpengaruh, Mengapa Tidak Digunakan Sejak Awal?

Photo Author
Agung Suprihanto, Jogja 24 Jam
- Sabtu, 4 April 2026 | 12:22 WIB

JOGJA.24JQMNEWS.COM - Ada satu pertanyaan yang mulai terasa mengganggu setelah melihat perjalanan HB II, jika pengaruhnya begitu besar, mengapa ia justru dibuang—dan baru dipanggil kembali di saat genting?

Bukankah lebih mudah “menggunakan” sosok seperti itu sejak awal?

Baca Juga: Sri Sultan Hamengku Buwono II, Sejarah yang Terlambat Diakui

Logikanya sederhana. Seorang raja yang memiliki wibawa kuat di mata rakyat dan bangsawan adalah aset. Ia bisa dijadikan jembatan, alat legitimasi, bahkan peredam konflik. Dalam banyak kasus kolonial, pola inilah yang justru sering digunakan.

Namun tidak dengan HB II.

Sejak awal, ia justru ditempatkan sebagai masalah.

Ia tidak diakomodasi.

Tidak dirangkul.

Tidak pula diberi ruang untuk “dikendalikan”.

Mengapa?

Di sinilah kita mulai melihat perbedaan yang halus, tapi menentukan.

Baca Juga: Ketika Raja-Raja Jawa Berkompromi, Ada Satu yang Menolak, Dialah HB II

Tidak semua penguasa lokal bisa diperlakukan dengan cara yang sama. Ada yang bisa diajak bekerja sama, ada yang bisa dinegosiasikan. Tetapi ada juga yang sejak awal sulit diprediksi—karena sikapnya yang terlalu tegas.

HB II berada di kategori terakhir itu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Agung Suprihanto

Tags

Terkini

Sungai di Kota Yogyakarta Butuh Trash Barrier

Sabtu, 18 April 2026 | 16:32 WIB

Ketika Nama yang Dibuang Mulai Dicari

Sabtu, 18 April 2026 | 15:48 WIB

Ketika Kekuasaan Mulai Kehilangan Arah

Jumat, 17 April 2026 | 11:53 WIB

Yang Berkuasa Bukan yang Bertahta

Kamis, 16 April 2026 | 11:16 WIB
X