• Sabtu, 18 April 2026

Menggagas Kereta Antar Kabupaten di DIY

Photo Author
GS Purwanto, Jogja 24 Jam
- Jumat, 10 April 2026 | 07:00 WIB
Pembicaraan GKR Mangkubumi dengan Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, Dominic Jermey membahas wacana menghidupkan kembali konektivitas antarkabupaten melalui sistem transportasi yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan. Foto: Humas Pemda DIY.
Pembicaraan GKR Mangkubumi dengan Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, Dominic Jermey membahas wacana menghidupkan kembali konektivitas antarkabupaten melalui sistem transportasi yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan. Foto: Humas Pemda DIY.

JOGJA.24JAMNEWS.COM - Deru langkah di Stasiun Yogyakarta siang itu terasa berbeda. Bukan sekadar hiruk-pikuk penumpang yang datang dan pergi, melainkan hadirnya harapan baru tentang masa depan transportasi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Kunjungan Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, Dominic Jermey, pada 8 April lalu menjadi penanda awal dari upaya besar: menghidupkan kembali konektivitas antarkabupaten melalui sistem transportasi yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.

Baca Juga: Dorrr, Indonesia Punya Pabrik Mobil

Di tengah bangunan bersejarah Stasiun Tugu, rombongan berdiskusi tentang lebih dari sekadar rel dan kereta. Mereka membicarakan masa depan mobilitas yang rendah karbon, inklusif, dan selaras dengan karakter budaya Yogyakarta.

Bagi Jermey, kota ini bukan tempat asing. Ia pernah belajar bahasa Indonesia di sini, dan kedekatan personal itu tampak dalam antusiasmenya mendukung pengembangan sistem transportasi yang lebih ramah lingkungan.

Salah satu gagasan utama yang mengemuka adalah penerapan konsep Transit Oriented Development (TOD). Konsep ini tidak hanya mengintegrasikan transportasi, tetapi juga menghubungkannya dengan tata ruang kota, aktivitas ekonomi, dan kehidupan masyarakat.

Baca Juga: Bersiap Hadapi El Niño “Godzilla”: Sedia Payung Sadurunge Udan

Dari Stasiun Tugu menuju Yogyakarta International Airport (YIA), terdapat potensi jaringan stasiun yang dapat dihidupkan kembali, membuka akses yang lebih luas bagi warga di Bantul, Kulon Progo, hingga wilayah lain.

GKR Mangkubumi menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian heritage. Penataan kawasan tidak boleh mengorbankan nilai sejarah yang telah lama menjadi identitas kota.

Justru, integrasi transportasi diharapkan mampu menghidupkan kembali kawasan bersejarah tanpa merusaknya.

Baca Juga: Dari Landasan Adisutjipto: Topi RI-1 dan Gestur Hangat Sultan

Lebih jauh, wacana memperluas jalur kereta hingga menjangkau kabupaten seperti Bantul menjadi harapan yang lama dinanti.

Bayangan kereta yang kembali melintas, menghubungkan desa dan kota, bukan lagi sekadar nostalgia, melainkan kebutuhan nyata di tengah pertumbuhan mobilitas masyarakat.

Dukungan Inggris, baik dalam bentuk teknis maupun perencanaan, membuka peluang percepatan realisasi gagasan ini. Namun, tantangan tetap ada—mulai dari pembiayaan, manajemen operasional, hingga keberlanjutan sistem.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: GS Purwanto

Tags

Terkini

Ketika Kekuasaan Mulai Kehilangan Arah

Jumat, 17 April 2026 | 11:53 WIB

Yang Berkuasa Bukan yang Bertahta

Kamis, 16 April 2026 | 11:16 WIB

Kota Jogja, Air yang Diam-Diam Mengkhianati

Kamis, 16 April 2026 | 10:42 WIB

HB II Setelah Semuanya Diambil, Apa yang Tersisa?

Minggu, 12 April 2026 | 07:02 WIB
X