Di tengah bayang-bayang efisiensi anggaran, secercah optimisme tetap menyala di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada triwulan IV 2025, perekonomian DIY justru mencatat pertumbuhan 5,94 persen (year on year), tertinggi di Pulau Jawa. Capaian ini menjadi pijakan harapan bagi Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk menargetkan pertumbuhan ekonomi 2026 menembus angka 6 persen.
Baca Juga: Soal Kunjungan Zulhas, Susu dari Lereng Pujon dan Ilusi Hilirisasi
Harapan tersebut disampaikan dalam suasana hangat silaturahmi Idulfitri di Pendopo Parasamya Bantul. Di hadapan para aparatur sipil negara dan pemangku kepentingan daerah, Sultan tidak hanya berbicara tentang angka, tetapi juga tentang nilai.
“Dengan menyadari betapa rumitnya tantangan yang kerap membelit bangsa ini, Idulfitri adalah momentum tepat untuk introspeksi diri bagi segenap anak bangsa,” ujarnya. Baginya, pembangunan tidak semata soal strategi fiskal, tetapi juga bagaimana “memilin benang-benang spiritualitas, agar menjadi penguat semangat kebangsaan.”
Baca Juga: Menggagas Kereta Antar Kabupaten di DIY
Pesan tersebut berakar dari nilai luhur yang diwariskan melalui Serat Piwulang. Dalam ajaran itu tertanam filosofi kebersamaan: “Konca iku sadulur, kancuhane nglakoni kardi, mati urip tan pisah…”—sebuah pengingat bahwa pengabdian adalah ikatan persaudaraan yang tak terpisahkan.
Lebih jauh, Sultan menekankan pentingnya empati dalam kepemimpinan. “Kang utama tansah ulah ing sih,” tuturnya, bahwa keutamaan lahir dari kasih dan tanggung jawab. Ia juga mengingatkan, “Lan aja lupa tibaning kang sih…,” bahwa kepercayaan adalah titipan yang harus dijaga dengan ketulusan.
Baca Juga: Dorrr, Indonesia Punya Pabrik Mobil
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Bantul menyambut pesan tersebut sebagai dorongan untuk berbenah. Semangat Mulat Sarira—introspeksi diri—menjadi komitmen untuk memperkuat sinergi dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Di antara angka pertumbuhan dan tantangan ekonomi, terselip pesan yang lebih dalam: kemajuan tidak hanya dibangun dengan kebijakan, tetapi juga dengan nilai, integritas, dan kebersamaan. Jogja, dengan keistimewaannya, kembali menegaskan bahwa pembangunan sejati berakar dari budaya dan kemanusiaan.