• Sabtu, 18 April 2026

HB II Dibuang Jauh Hingga Penang-Malaysia, Tapi Tidak Pernah Benar-Benar Hilang.

Photo Author
Agung Suprihanto, Jogja 24 Jam
- Senin, 13 April 2026 | 14:25 WIB

JOGJA.24JAMNEWS.COM - Setelah semuanya diambil, langkah berikutnya menjadi hampir tak terelakkan.

HB II tidak lagi hanya dilengserkan. Ia dijauhkan. Bukan sekadar dari tahta. Tetapi dari pusat kehidupan yang selama ini membentuknya.

Pengasingan menjadi pilihan.

Baca Juga: Pantai Bantul, Mencari Arah Di Tengah Deru Pembangunan

Ia dibawa keluar dari Jawa—ke tempat yang jauh, asing, dan terputus dari pengaruh yang selama ini melekat padanya. Secara kasat mata, ini adalah langkah yang “bersih”. 

Tidak ada lagi potensi perlawanan. Tidak ada lagi pusat kekuatan yang bisa ia gerakkan.

Semuanya seolah selesai. Namun sekali lagi, perjalanan HB II tidak pernah benar-benar mengikuti pola itu.

Baca Juga: Pengabdian Tanpa Henti, Hingga Nafas Terakhir: Adrian Subagyo

Karena membuang seseorang secara fisik, tidak selalu berarti menghapus pengaruhnya.

Justru di sinilah kita melihat sesuatu yang menarik.

Jika benar HB II sudah tidak lagi dianggap penting, mengapa ia harus dijauhkan sejauh itu?

Baca Juga: Aset Besar, Harapan Besar: Membaca Angka dengan Nalar Publik

Mengapa tidak cukup dilengserkan dan dibiarkan di tempatnya sendiri, seperti yang sering terjadi pada penguasa lain?

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Agung Suprihanto

Tags

Terkini

Ketika Kekuasaan Mulai Kehilangan Arah

Jumat, 17 April 2026 | 11:53 WIB

Yang Berkuasa Bukan yang Bertahta

Kamis, 16 April 2026 | 11:16 WIB

Kota Jogja, Air yang Diam-Diam Mengkhianati

Kamis, 16 April 2026 | 10:42 WIB

HB II Setelah Semuanya Diambil, Apa yang Tersisa?

Minggu, 12 April 2026 | 07:02 WIB
X