JOGJA.24JAMNEWS.COM - Setelah penyerbuan itu, tidak banyak yang benar-benar utuh. Keraton telah dimasuki. Kekuasaan telah direbut.
Dan yang tersimpan selama ini—perlahan berpindah tangan.
Lalu pertanyaannya menjadi sederhana, tapi terasa berat. Apa yang tersisa?
Bagi HB II, jawabannya bukan lagi soal tahta. Karena tahta bisa diambil. Kekuasaan bisa dipindahkan. Dan itu sudah terjadi.
Baca Juga: Pengabdian Tanpa Henti, Hingga Nafas Terakhir: Adrian Subagyo
Ia kembali dilengserkan. Posisi yang sempat direbutnya, kini hilang lagi—kali ini bukan karena tekanan perlahan, tetapi karena kekuatan yang datang secara langsung dalam tempo cepat.
Di atas kertas, semuanya tampak selesai. Penguasa baru ditetapkan. Kendali berada di tangan yang berbeda.
Dan struktur kekuasaan kembali disusun.
Baca Juga: Geger Sapehi ke Mahkamah Internasional, Menggugat Ingatan yang Dirampas
Namun seperti sebelumnya, ada satu hal yang tidak sepenuhnya hilang. Pengaruh.
Meskipun tidak lagi berada di pusat kekuasaan, nama HB II tidak serta-merta lenyap. Ia tidak lagi memerintah, tetapi juga tidak sepenuhnya “hilang”.
Dan mungkin, di situlah letak keganjilan berikutnya.
Baca Juga: Unik! Komunitas Agus Gelar Syawalan, Semua Peserta Wajib Punya Unsur Nama “Agus”
Karena dalam banyak kasus, ketika kekuasaan telah direbut dan simbol-simbolnya telah diambil, biasanya cerita kemudian berakhir. Tetapi dalam perjalanan HB II, selalu ada sesuatu yang tertinggal—sesuatu yang membuatnya tidak pernah benar-benar selesai.