jogja

Pantai Bantul, Mencari Arah Di Tengah Deru Pembangunan

Senin, 13 April 2026 | 09:01 WIB

Dan di sinilah tantangan klasik kembali muncul: fragmentasi kelembagaan. Tanpa orkestrasi yang kuat, rencana induk berisiko terpecah dalam implementasi. Setiap perangkat daerah berjalan dengan logikanya sendiri, sementara investor membawa kepentingannya masing-masing.

Baca Juga: Optimisme Sultan: DIY Dibidik Tembus Pertumbuhan 6% di Tengah Tantangan Ekonomi

Jika itu terjadi, maka master plan hanya akan menjadi dokumen yang “lengkap”—tetapi tidak efektif.

Namun kita belum terlambat. Target 2026 sebagai awal implementasi memberi ruang untuk memastikan bahwa dokumen ini benar-benar matang. Keterlibatan masyarakat yang disebut dalam proses penyusunan juga menjadi sinyal positif—meski kualitas partisipasinya tetap perlu diuji: apakah sekadar formalitas, atau benar-benar menyerap aspirasi.

Pada akhirnya, masa depan pantai selatan Bantul akan ditentukan oleh satu hal sederhana: konsistensi.

Baca Juga: Soal Kunjungan Zulhas, Susu dari Lereng Pujon dan Ilusi Hilirisasi

Rencana boleh bagus, arahan bisa bijak, bahkan legitimasi budaya telah dirangkul. Tapi tanpa konsistensi dalam menjalankan—menjaga disiplin tata ruang, menahan godaan eksploitasi jangka pendek—semua itu akan kembali ke pola lama: tumbuh tanpa arah.

Dan kita tahu, kawasan tanpa arah bukan hanya kehilangan potensi. Ia perlahan kehilangan jiwanya.

Halaman:

Tags

Terkini

Ketika Kekuasaan Mulai Kehilangan Arah

Jumat, 17 April 2026 | 11:53 WIB

Yang Berkuasa Bukan yang Bertahta

Kamis, 16 April 2026 | 11:16 WIB

Kota Jogja, Air yang Diam-Diam Mengkhianati

Kamis, 16 April 2026 | 10:42 WIB

HB II Setelah Semuanya Diambil, Apa yang Tersisa?

Minggu, 12 April 2026 | 07:02 WIB