Dan di sinilah tantangan klasik kembali muncul: fragmentasi kelembagaan. Tanpa orkestrasi yang kuat, rencana induk berisiko terpecah dalam implementasi. Setiap perangkat daerah berjalan dengan logikanya sendiri, sementara investor membawa kepentingannya masing-masing.
Baca Juga: Optimisme Sultan: DIY Dibidik Tembus Pertumbuhan 6% di Tengah Tantangan Ekonomi
Jika itu terjadi, maka master plan hanya akan menjadi dokumen yang “lengkap”—tetapi tidak efektif.
Namun kita belum terlambat. Target 2026 sebagai awal implementasi memberi ruang untuk memastikan bahwa dokumen ini benar-benar matang. Keterlibatan masyarakat yang disebut dalam proses penyusunan juga menjadi sinyal positif—meski kualitas partisipasinya tetap perlu diuji: apakah sekadar formalitas, atau benar-benar menyerap aspirasi.
Pada akhirnya, masa depan pantai selatan Bantul akan ditentukan oleh satu hal sederhana: konsistensi.
Baca Juga: Soal Kunjungan Zulhas, Susu dari Lereng Pujon dan Ilusi Hilirisasi
Rencana boleh bagus, arahan bisa bijak, bahkan legitimasi budaya telah dirangkul. Tapi tanpa konsistensi dalam menjalankan—menjaga disiplin tata ruang, menahan godaan eksploitasi jangka pendek—semua itu akan kembali ke pola lama: tumbuh tanpa arah.
Dan kita tahu, kawasan tanpa arah bukan hanya kehilangan potensi. Ia perlahan kehilangan jiwanya.