JOGJA.24JAMNEWS.COM - Amerika Serikat kembali menunjukkan wajah kerasnya dalam diplomasi—kali ini tanpa banyak suara. Pada Desember 2025, Washington diam-diam meminta Wakil Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Saadat Aghajani, angkat kaki dari New York.
Tak ada konferensi pers, tak pula label resmi persona non grata. Hanya sebuah mekanisme sunyi bernama Section 13.
Baca Juga: Perdana Menteri Baru Nepal, Penyanyi Rap yang Pemberontak
Di balik istilah teknokratis itu, tersimpan pesan yang tak kalah tegas: keamanan nasional tetap menjadi garis batas yang tak bisa dinegosiasikan, bahkan di jantung diplomasi global seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Laporan Axios yang terbit awal April ini mengungkap bahwa permintaan itu disampaikan melalui nota verbal Departemen Luar Negeri AS kepada misi Iran.
Prosedur Section 13 sendiri kerap dipilih ketika sebuah negara ingin “merapikan” kehadiran diplomat asing tanpa memantik eskalasi terbuka. Sebuah jalan tengah antara kepentingan keamanan dan etika hubungan internasional.
Baca Juga: Koperasi Raksasa Dunia Bukti Nyata Bukan Sekadar Usaha Kecil
Namun, jalan tengah itu tetap menyisakan tanda tanya. Tak ada tuduhan spesifik terhadap Aghajani yang dipublikasikan. Bahkan, pejabat AS hanya menyebut “alasan keamanan nasional”—frasa yang sering kali lebih banyak menyembunyikan daripada menjelaskan.
Yang menarik, langkah ini ternyata bukan kasus tunggal. Sedikitnya dua diplomat Iran lain telah lebih dulu diminta pergi dalam rentang waktu yang berdekatan.
Baca Juga: Tiga Pahlawan Gugur, Negara Berjuang Pulangkan dalam Konflik Memanas
Sebelumnya lagi, Washington membatasi ruang gerak diplomat Iran hanya dalam radius 40 kilometer dari Manhattan. Batas yang, bagi sebagian diplomat, tampaknya terlalu sempit untuk ditaati—dan pelanggaran atasnya menjadi pintu keluar yang sunyi.
Kisah ini menjadi cermin bagaimana hubungan Amerika Serikat dan Iran terus bergerak dalam spektrum ketegangan yang tak pernah benar-benar reda.
Baca Juga: Tiga Prajurit Gugur, Indonesia Menangis dalam Balutan Merah Putih
Bahkan ketika dunia tidak sedang menyorot, dinamika itu tetap berlangsung—rapat, senyap, dan penuh perhitungan.