• Sabtu, 18 April 2026

Perang, Jalan Kerugian yang Menelan Masa Depan

Photo Author
Agung Suprihanto, Jogja 24 Jam
- Kamis, 26 Maret 2026 | 23:04 WIB
Tak ada anak yang datang di taman. Mereka bersembunyi dalam trauma. Ilustrasi: AI
Tak ada anak yang datang di taman. Mereka bersembunyi dalam trauma. Ilustrasi: AI

JOGJA.24JAMNEWS.COM - Dalam hitungan hari, angka-angka itu berubah menjadi wajah. Lebih dari 2.100 anak tewas atau terluka sejak eskalasi militer di Timur Tengah, menurut pernyataan pejabat UNICEF, Ted Chaiban. Rata-rata 87 anak menjadi korban setiap hari—angka yang dingin, tetapi sesungguhnya adalah potongan masa depan yang terputus satu per satu.

Perang selalu mengklaim dirinya sebagai soal strategi, kedaulatan, atau keamanan. Namun, ketika sekolah berubah menjadi tempat pengungsian dan buku-buku digantikan oleh selimut darurat, kita tahu bahwa yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar wilayah, melainkan generasi. 

Baca Juga: Retak Sunyi di Poros Lama, Bara Baru di Perang Teluk

Di Lebanon, lebih dari 350 sekolah negeri kini menampung pengungsi. Di Iran, jutaan orang terusir dari rumahnya, ratusan ribu di antaranya anak-anak. Mereka tidak hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga ritme kehidupan yang membentuk masa depan: belajar, bermain, tumbuh.

Kerap kali, perang dipahami sebagai kemenangan satu pihak atas pihak lain. Namun, jika dilihat dari mata seorang anak yang kehilangan orang tua, atau seorang guru yang tak lagi memiliki ruang kelas, kemenangan itu terasa hampa. Dalam lanskap seperti ini, tidak ada pihak yang benar-benar menang.

Yang ada hanyalah kerugian yang berbeda bentuk.

Baca Juga: Solusi Air dari Langit

Di Israel maupun di negara-negara tetangganya, narasi tentang ancaman dan pembelaan diri terus diproduksi. Tetapi, di balik itu, anak-anak tumbuh dalam trauma yang sama—ketakutan akan sirene, ledakan, dan kehilangan.

Mereka adalah generasi yang belajar tentang dunia bukan dari pelajaran sejarah, melainkan dari pengalaman langsung akan kekerasan.

Lebih jauh, perang yang berkepanjangan menciptakan kekalahan yang tidak kasat mata: hilangnya kapasitas suatu bangsa untuk membayangkan masa depan. Ketika jutaan anak hidup dalam situasi konflik, pendidikan terputus, kesehatan terganggu, dan rasa aman lenyap, maka yang hilang bukan hanya satu generasi, tetapi juga potensi yang seharusnya membangun kembali negeri-negeri itu.

Baca Juga: Pelantikan Kagama Klaten, Melanjutkan Jejak Yang Tertinggal

Peringatan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang pentingnya deeskalasi dan jalan politik terdengar seperti gema yang terus diulang, tetapi jarang benar-benar didengar.

Padahal, setiap hari yang berlalu tanpa jeda konflik adalah hari lain di mana masa depan dipangkas.

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Agung Suprihanto

Tags

Terkini

Ketika Nama yang Dibuang Mulai Dicari

Sabtu, 18 April 2026 | 15:48 WIB

Ketika Kekuasaan Mulai Kehilangan Arah

Jumat, 17 April 2026 | 11:53 WIB

Yang Berkuasa Bukan yang Bertahta

Kamis, 16 April 2026 | 11:16 WIB

HB II Setelah Semuanya Diambil, Apa yang Tersisa?

Minggu, 12 April 2026 | 07:02 WIB
X