Pelan-pelan, bayangan itu mulai punya bentuk.
Jika sebelumnya kita hanya melihat “tangan-tangan di balik layar”, kini pertanyaannya menjadi lebih spesifik: siapa sebenarnya yang berada di ruang itu?
Sejarah memang tidak selalu menyebutnya dengan terang. Tapi jika ditelusuri lebih dalam, ada satu pola yang mulai terlihat—bahwa di antara kekuasaan kolonial dan keraton, selalu ada sosok perantara.
Baca Juga: Sri Sultan Hamengku Buwono II, Sejarah yang Terlambat Diakui
Bukan raja.
Bukan pula penjajah sepenuhnya.
Melainkan mereka yang berdiri di tengah.
Salah satu nama yang kerap muncul dalam catatan adalah Danurejo 2
Di titik ini, kita tidak perlu terburu-buru menilai. Cukup pahami posisinya.
Baca Juga: Tiga Kali Naik Turun Tahta, HB II, Melawan Tanpa Henti, Tanpa Kompromi
Sebagai patih, ia bukan sekadar pejabat administratif. Ia adalah penghubung: antara kehendak keraton dan tekanan kekuasaan kolonial. Di tangannya, banyak keputusan diterjemahkan, dinegosiasikan, bahkan—dalam situasi tertentu—diarahkan.
Dan di sinilah lapisan itu menjadi semakin menarik.
Baca Juga: HB II, Selalu Dianggap Ancaman, Bahkan Ketika Sudah Dibuang
Karena dalam posisi seperti itu, pilihan tidak pernah sederhana.