Apakah ia harus setia sepenuhnya pada raja?
Atau realistis membaca arah kekuasaan yang sedang berubah?
Pertanyaan ini tidak hanya berlaku bagi satu orang. Tapi dalam konteks HB II, ia menjadi sangat relevan.
Baca Juga: HB II Dipanggil Kembali, Tapi Bukan Karena Dimaafkan
Kita sudah melihat bagaimana HB II berulang kali berbenturan dengan kekuasaan kolonial. Kita juga melihat bagaimana ia tidak pernah benar-benar bisa “dikendalikan”.
Lalu di sisi lain, ada mereka yang justru berada di posisi sebaliknya: harus menjaga keseimbangan, atau mungkin… memilih bertahan dengan cara yang berbeda.
Di titik ini, sejarah tidak lagi sekadar tentang perlawanan dan penjajahan.
Ia mulai berbicara tentang pilihan-pilihan sulit.
Baca Juga: HB II dan Tangan-Tangan di Balik Layar
Tentang mereka yang berdiri tegak—dan mereka yang memilih bertahan dengan cara lain.
Dan mungkin, di sinilah pertanyaan itu mulai berubah arah:
Apakah semua yang tidak melawan bisa dianggap menyerah…
atau justru sedang memainkan peran yang tidak selalu terlihat?