JOGJA.24JAMNEWS.COM - Suasana hangat menyelimuti Pendopo Parasamya, Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman, Selasa pagi.
Dalam balutan tradisi syawalan, Sri Sultan Hamengku Buwono X hadir bersama jajaran Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Kedatangannya disambut langsung oleh Bupati Harda Kiswaya dan Wakil Bupati Danang Maharsa.
Baca Juga: Di Balik Sajian Laut Lezat, Perjuangan Sunyi Nelayan Indonesia
Momentum ini terasa lebih dari sekadar seremoni. Ada kehangatan, ada makna. Syawalan menjadi ruang untuk saling membuka hati setelah Ramadan.
“Momentum syawalan ini menjadi kesempatan bagi kita semua untuk saling memaafkan sekaligus memperkuat kebersamaan dalam membangun daerah,” ujar Harda.
Ia menegaskan, pelayanan publik adalah inti pengabdian. Bukan rutinitas. Pemerintah Kabupaten Sleman, katanya, terus mendorong aparatur yang profesional dan berintegritas. Tantangan ke depan tidak ringan. Respons harus cepat. Sikap harus tepat.
Baca Juga: Ibas Dorong Ekonomi Biru dan Ketahanan Pangan Nelayan Indonesia
“Pelayanan publik bukan sekadar rutinitas, tetapi merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat,” jelasnya.
Di hadapan jajaran Forkopimda dan tamu undangan, sinergi menjadi kata kunci. Kolaborasi lintas level pemerintahan dinilai penting untuk menjawab dinamika pembangunan.
Sementara itu, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengajak semua yang hadir untuk tidak berhenti pada simbol. Nilai Ramadan, menurutnya, harus hidup dalam keseharian.
Baca Juga: Seribu Rumah, Semangat Gotong Royong
“Dengan semangat Idulfitri, kekusutan hubungan antar sesama akan diurai kembali. Saya berharap syawalan ini menjadi telaga spiritual yang mencerahkan hati dalam menjalankan ketugasan,” ujarnya.
Ia menekankan prinsip Mulat Sariro, Jumangkah Jantraning Laku. Mawas diri dalam setiap keputusan. Jernih dalam berpikir. Empatik dalam bertindak.
“Sudah selayaknya kita mampu berpikir jernih dan empatik,” tuturnya.