JOGJA.24JAMNEWS.COM - Perlawanan tidak selalu datang dari luar. Kadang, justru yang paling menentukan terjadi di dalam.
Setelah kita mulai melihat adanya “tangan-tangan di balik layar”, satu hal menjadi semakin jelas, ketegangan di masa itu bukan hanya antara keraton dan kekuasaan kolonial.
Tetapi juga di dalam keraton itu sendiri. Di sinilah cerita mulai berubah arah.
Baca Juga: Sri Sultan Hamengku Buwono II, Sejarah yang Terlambat Diakui
Jika di luar, musuh terlihat jelas—VOC, Belanda, Inggris—maka di dalam, batasnya menjadi kabur. Siapa yang setia, siapa yang menyesuaikan, dan siapa yang bermain di dua sisi, tidak selalu mudah dibedakan.
Dan dalam situasi seperti itu, setiap keputusan menjadi jauh lebih berat.
Kita sudah menyinggung nama Danurejo 2 . Sebagai patih, posisinya tidak sederhana. Ia berada di titik temu antara kehendak raja dan tekanan kekuasaan kolonial.
Di sinilah ketegangan itu mencapai titiknya.
Baca Juga: HB II, Selalu Dianggap Ancaman, Bahkan Ketika Sudah Dibuang
Ada satu fakta yang sering hanya disebut sepintas: dalam masa kekuasaannya, HB II mengambil langkah ekstrem terhadap pihak dalam yang dianggap bersekongkol dengan kekuatan asing.
Ini bukan sekadar keputusan politik. Ini adalah pilihan yang menyentuh inti kekuasaan itu sendiri.
Baca Juga: HB II Dipanggil Kembali, Tapi Bukan Karena Dimaafkan
Karena ketika ancaman datang dari dalam, responsnya tidak lagi bisa setengah-setengah.
Bagi HB II, garisnya tampak jelas, siapa pun yang membuka ruang bagi intervensi asing, berarti mengancam kedaulatan. Dan ancaman seperti itu tidak bisa dibiarkan tumbuh.