• Sabtu, 18 April 2026

HB II,  Ketika Perlawanan Datang dari Dalam

Photo Author
Agung Suprihanto, Jogja 24 Jam
- Selasa, 7 April 2026 | 14:04 WIB

Membunuh patih atau wakil bahkan perdana menterinya yang juga adalah menantunya sendiri , lalu menguburkannya di pemakaman para pengkhianat, betapa berat dan pahit serta menyayatnya jalan yang harus diputuskan.

Baca Juga: Jika HB II Begitu Berpengaruh, Mengapa Tidak Digunakan Sejak Awal?

Namun di sisi lain, realitas tidak sesederhana itu. Tidak semua yang “berhubungan” dengan kekuasaan kolonial berarti berkhianat. Dalam banyak kasus, itu justru bagian dari cara bertahan di tengah tekanan yang tidak seimbang.

Di sinilah drama itu mencapai bentuknya yang paling manusiawi.

Baca Juga: HB II dan Tangan-Tangan di Balik Layar

Bukan lagi sekadar hitam dan putih.Tetapi pilihan-pilihan sulit, di mana setiap langkah memiliki konsekuensi.

Dan mungkin, di titik ini kita mulai melihat HB II dengan cara yang berbeda.

Bukan hanya sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah…

Baca Juga: HB II Dipanggil Kembali, Tapi Bukan Karena Dimaafkan

tetapi juga sebagai pemimpin yang harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ancaman terbesar kadang tidak datang dari luar—melainkan dari dalam jantung pertahanannya sendiri.

Lalu pertanyaannya menjadi semakin dalam, 

Dalam situasi seperti itu, apakah ketegasan adalah kekuatan…

atau justru awal dari konflik yang tidak terhindarkan?

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Agung Suprihanto

Tags

Terkini

Ketika Nama yang Dibuang Mulai Dicari

Sabtu, 18 April 2026 | 15:48 WIB

Ketika Kekuasaan Mulai Kehilangan Arah

Jumat, 17 April 2026 | 11:53 WIB

Yang Berkuasa Bukan yang Bertahta

Kamis, 16 April 2026 | 11:16 WIB

HB II Setelah Semuanya Diambil, Apa yang Tersisa?

Minggu, 12 April 2026 | 07:02 WIB
X