Seorang pejabat tinggi Uni Emirat Arab (UEA) menyebut konflik yang tengah berlangsung di Timur Tengah sebagai momen bersejarah yang sarat tantangan.
Dalam wawancara dengan CNN, penasihat presiden UEA, Anwar Gargash, mengakui bahwa negara-negara kawasan, termasuk UEA, belum berhasil menjaga stabilitas regional di tengah eskalasi ketegangan yang semakin meluas.
Baca Juga: Prabowo Saksikan 11 MoU Rp 600 Triliun RI–AS di Washington
“Kami memiliki tanggung jawab untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat serta negara-negara tetangga seperti Iran guna memastikan keamanan dan stabilitas kawasan. Namun, jelas kali ini kami belum berhasil,” ujar Gargash kepada jurnalis CNN, Becky Anderson.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu tanggapan resmi pertama dari pejabat negara Teluk setelah meningkatnya ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
UEA sendiri dilaporkan menjadi sasaran Iran pada Sabtu lalu sebagai respons atas serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel.
Gargash mengungkapkan bahwa pihaknya sangat kecewa atas meluasnya konflik hingga menyeret negara-negara tetangga.
Baca Juga: Dedi Mulyadi, Wow, Gile Lu
Meski mengecam tindakan Iran, ia menekankan pentingnya mencegah konfrontasi militer berskala besar yang dampaknya sulit diprediksi.
“Kami sangat prihatin dan mengecam perluasan konflik ini. Namun, pada saat yang sama, semua pihak memahami bahwa kawasan ini harus terhindar dari perang besar dengan konsekuensi yang tidak sepenuhnya kita pahami,” katanya.
Menurut Gargash, UEA tidak menerima pemberitahuan sebelumnya terkait operasi militer yang terjadi.
Meski demikian, ia mengaku pihaknya telah memperkirakan kemungkinan tersebut berdasarkan perkembangan dalam perundingan antara Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga: Indonesia, Raja Layar di Asia Tenggara
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa meskipun program nuklir dan rudal Iran dipandang sebagai ancaman bagi stabilitas kawasan, penyelesaiannya harus ditempuh melalui jalur politik dan diplomasi, bukan melalui konfrontasi bersenjata.