JOGJA.24JAMNEWS.COM - Ada momen dalam sejarah yang mengubah segalanya—bukan karena panjangnya, tetapi karena dampaknya.
Bagi HB II, momen itu datang ketika keraton tidak lagi menjadi tempat yang aman.
Serangan itu benar-benar terjadi.
Bukan sekadar tekanan politik.
Baca Juga: Sri Sultan Hamengku Buwono II, Sejarah yang Terlambat Diakui
Bukan sekadar ancaman.
Tetapi kekuatan bersenjata yang masuk langsung ke pusat kekuasaan.
Di bawah kendali Thomas Stamford Raffles, pasukan yang dikenal sebagai tentara Sepoy—prajurit dari India—dikerahkan. Mereka bukan hanya datang untuk menunjukkan kekuatan, tetapi untuk memastikan satu hal, kekuasaan harus tunduk.
Baca Juga: Menggagas Kereta Antar Kabupaten di DIY
Dan kali ini, tidak ada ruang untuk menunda.
Keraton Yogyakarta, yang selama ini menjadi simbol kedaulatan, berubah menjadi medan benturan.
Apa yang sebelumnya hanya terasa sebagai tekanan, kini menjadi kenyataan yang tidak bisa dihindari.
Di titik ini, perlawanan mencapai batasnya.