Ia menambahkan, rendahnya pemahaman masyarakat mengenai langkah yang harus dilakukan saat bencana terjadi juga menjadi perhatian utama tim.
Baca Juga: Bonus Demografi dan Jendela yang Perlahan Menutup
Menurutnya, teknologi seharusnya tidak hanya hadir sebagai alat, tetapi juga sebagai medium edukasi dan penguatan kesiapsiagaan publik.
Rangkaian seleksi kompetisi dimulai sejak tahap preliminary pada Oktober, dilanjutkan pengumuman tim yang lolos hingga Desember, serta pengembangan prototipe selama sekitar satu bulan.
Najwa menyebut tantangan utama bukan terletak pada pematangan ide, melainkan pada keterbatasan waktu dan sumber daya, mengingat solusi yang dikembangkan mengintegrasikan aplikasi mobile dengan teknologi drone.
Tantangan lain datang dari dinamika kerja tim lintas negara.
Baca Juga: Malioboro Kian Ramah Langkah, Wisatawan Kian Betah
Seluruh anggota tim berkoordinasi secara daring dari zona waktu berbeda tanpa pernah bertemu secara langsung.
Kondisi tersebut menuntut komunikasi yang intens serta pembagian peran yang jelas di antara anggota tim.
“Kami berusaha memberi ruang kepada setiap anggota untuk berkarya sesuai dengan keahliannya, agar muncul rasa tanggung jawab dan ownership terhadap ide yang kami bawa,” ujar Najwa.
Keberhasilan Tim Tycoon mendapat apresiasi dari dosen pendamping, Prof. Wakhid Slamet Ciptono, Guru Besar Ilmu Manajemen FEB UGM.
Ia menilai solusi yang dipresentasikan tim memiliki kedalaman analisis serta relevan dengan konteks negara berkembang.
Baca Juga: Tol Fungsional Menuju Jogja: Jalan Pintas Mudik Lebaran 2026
“Kasus yang diangkat menunjukkan persoalan negara berkembang yang sedang menuju negara maju.
Solusi yang ditawarkan juga mengaitkan isu keberlanjutan, termasuk aspek lingkungan, sehingga penyampaian bisnisnya sudah komprehensif,” kata Wakhid.