Sementara itu, kelompok paling rentan—remaja, perempuan muda, dan masyarakat dengan akses pendidikan terbatas—menanggung risiko terbesar.
Hari Kondom Internasional sebetulnya tidak membutuhkan seremoni. Ia lebih tepat dipahami sebagai momen refleksi.
Tentang sejauh mana kita bersedia melihat isu kesehatan reproduksi sebagai bagian dari tanggung jawab kolektif, bukan semata persoalan moral individual.
Baca Juga: Dari Kegelisahan Bencana, Mahasiswa UGM Raih Juara Global Sustainability Challenge di China
Tentang keberanian memisahkan antara pencegahan kesehatan dan penilaian etis, tanpa harus menegasikan nilai-nilai yang hidup di masyarakat.
Kesehatan publik selalu bekerja di wilayah yang tidak ideal. Ia berangkat dari kenyataan bahwa risiko ada, pilihan beragam, dan konsekuensi tidak selalu bisa dihindari.
Dalam konteks itu, diam bukanlah sikap netral. Diam adalah keputusan yang ikut membiarkan risiko berkembang.
Mungkin yang perlu kita renungkan bukan apakah membicarakan kondom pantas atau tidak, melainkan berapa banyak biaya kemanusiaan yang harus dibayar dari keheningan itu.
Sebab dalam urusan kesehatan publik, yang sering kali paling berbahaya bukanlah kata yang diucapkan, melainkan percakapan yang tak pernah dimulai.